Produk-Produk Pasar Modal

6:29 AM Unknown 0 Comments

1.1  Latar belakang
Belakangan ini banyak berbagai pilihan produk investasi ditawarkan, ada yang mirip dengan produk pasar modal, ada yang tidak. Banyak investasi bodong/penipuan berkedon investasi yang ditawarkan dengan iming-iming keuntungan berlipat ganda, tanpa memberi tahu tentang resikonya. Investasi bodong ditawarkan dengan imbal hasil ratusan persen setiap tahunnya, jangan tergiur! Penawaran investasi bodong sangat "wah", lewat internet hingga door to door secara multi level marketing. Tidak sedikit orang yang terpikat sama investasi bodong dan menanamkan modalnya. Di awal memang untung, kemudian banyak yang buntung. Ironisnya, meski telah diedukasi, kejadian investasi bodong tersebut selalu berulang. Kenapa hal itu bisa terjadi? Banyak orang terjebak investasi bodong karena ingin memperoleh keuntungan yang maksimal dan instant. Sebagaimana teori investasi , maka seorang investor mempunyai dua pilihan untuk menanamkan uangnya.
Pilihan pertama adalah menabung di bank dengan harapan memperoleh bunga yang saat ini cukup kecil besarannya. Pada saat bunga bank tinggi, menabung di bank sangat menguntungkan, namun jika bunga bank rendah, kurang menguntungkan. Saat ini, menabung di bank sebenarnya kurang tepat jika disebut investasi namun lebih pada tujuan savings.
Pilihan kedua dalam berinvestasi adalah membuka usaha / menanamkan modal baik secara langsung / melalui pasar modal. Harapan melakukan investasi adalah memperoleh tingkat imbal hasil yang tinggi. Seimbangkan dengan resikonya! 
Banyak sekali berbagai pilihan produk investasi yang ditawarkan, mulai dari yang logis hingga yang tidak. Sebaiknya calon investor cermat! Apapun pilihan investasi yang hendak dipilih seorang investor hendaknya selalu menimbang ada keuntungan dan resiko. Resiko harus dipertimbangkan, sebab resiko investasi merupakan persentase kemungkinan usaha itu mengalami rugi. Selain imbal hasil dan resiko, pertimbangkan tujuan investasi dan juga likuiditas investasi. Likuiditas investasi adalah seberapa cepat / mudahnya investasi kita dicairkan menjadi uang segar. Untuk jangka panjang, dana diharapkan bisa berkembang dengan hasil selalu maksimal dan berdaya beli tinggi. Untuk investasi jangka pendek, dana yang ditanamkan sewaktu-waktu harus bisa dijual tanpa mengalami pengurangan. 
Untuk investasi jangka pendek, produk investasi harus gampang dijual dengan mekanisme pasar yang jelas dan transparan. Contoh investasi yang cukup likuid / mudah dicairkan adalah investasi pasar uang dan pasar modal. Apa itu? Membeli instrumen pasar uang, Surat Berharga Bank Indonesia misalnya, waktu yang dibutuhkan investor untuk bertransaksi surat berharga ini sepekan sekali. Surat Berharga Bank Indonesia (SBI) dilelang tiap pekan. SBI memang fixed income, berpendapatan tetap. Namun investor kecil peluangnya untuk memperoleh SBI sebab dalam membeli butuh dana yang besar. Surat berharga lain, semisal comercial paper (CP), juga bukan "makanan" investor individu yang modalnya kecil. Membeli tanah dan bangunan, tidak saja butuh waktu dalam membeli, tapi juga kurang likuid jika sewaktu-waktu ingin dijual.

1.2  Tujuan :

1.      Mendeskripsikan produk pasar modal

2.      Mendeskripsikan karakteristik pasar modal.

 2.1   Produk-produk Pasar Modal

Pasar Modal


Pasar modal di Indonesia semakin hari tentunya semakin meningkat pelaku pasar modal dan nilai perdagangannya. Hal ini harus diimbangi oleh pengetahuan yang baik bagi siapa saja yang ingin “bermain” di pasar modal, minimal mengetahui apa saja produk yang dihasilkan pasar modal. Instrumen atau produk yang diperdagangkan di Pasar Modal disebut dengan Efek.
Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek. Berikut adalah produk-produk pasar modal :

1. Saham (Stocks)
Saham pada dasarnya adalah bukti pemilikan atas suatu perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT).  Saham terbagi atas dua jenis, yaitu :

a. Saham Biasa (Common Stocks)
Di antara surat-surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal, saham biasa (common stock) adalah yang paling dikenal masyarakat. Di antara emiten (perusahaan yang menerbitkan surat berharga), saham biasa juga merupakan yang paling banyak digunakan untuk menarik dana dari masyarakat. Jadi saham biasa paling menarik, baik bagi pemodal maupun bagi emiten. Apakah Saham itu?  Secara sederhana, saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah, selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut. Jadi sama dengan menabung di bank. Setiap kali kita menabung, maka kita akan mendapat slip yang menjelaskan bahwa kita telah menyetor sejumlah uang. Bila kita membeli saham, maka kita akan menerima kertas yang menjelaskan bahwa kita memiliki perusahaan penerbit saham tersebut.

b. Saham Preferen (Preferred Stocks)
Saham Preferen merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor. Saham preferen serupa dengan saham biasa karena dua hal, yaitu: mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas lembaran saham tersebut; dan membayar dividen. Sedangkan persamaan antara saham preferen dengan obligasi terletak pada tiga hal: ada klaim atas laba dan aktiva sebelumnya; dividennya tetap selama masa berlaku (hidup) dari saham; memiliki hak tebus dan dapat dipertukarkan (convertible) dengan saham biasa. Oleh karena saham preferen diperdagangkan berdasarkan hasil yang ditawarkan kepada investor, maka secara praktis saham preferen dipandang sebagai surat berharga dengan pendapatan tetap dan karena itu akan bersaing dengan obligasi di pasar. Walaupun demikian, obligasi perusahaan menduduki tempat yang lebih senior dibanding dengan saham preferen.

2. Obligasi (Bond)
Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak antara pemberi dana (dalam hal ini pemodal) dengan yang diberi dana (emiten). Jadi surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut telah membeli hutang perusahaan yang menerbitkan obligasi. Penerbit membayar bunga atas obligasi tersebut pada tanggal-tanggal yg telah ditentukan secara periodik, dan pada akhirnya menebus nilai utang tersebut pada saat jatuh tempo dengan mengembalikan jumlah pokok pinjaman ditambah bunga yg terutang. Pada umumnya, instrumen ini memberikan bunga yang tetap secara periodik. Bila bunga dalam sistem ekonomi menurun, nilai obligasi naik; dan sebaliknya jika bunga meningkat, nilai obligasi turun.

3. Obligasi Konversi (Convertible Bond)
Obligasi konversi, sekilas tidak ada bedanya dengan obligasi biasa, misalnya, memberikan kupon yang tetap, memiliki waktu jatuh tempo dan memiliki nilai “face value”. Hanya saja, obligasi konversi memiliki keunikan, yaitu bisa ditukar dengan saham biasa. Pada obligasi konversi selalu tercantum persyaratan untuk melakukan konversi. Misalnya, setiap obligasi konversi bisa dikonversi menjadi 3 lembar saham biasa setelah 1 Januari 2006. Persyaratan ini tidak sama diantara obligasi konversi yang satu dengan yang lainnya. Obligasi konversi (convertible bond), sudah dikenal di pasar modal Indonesia. Untuk kalangan emiten swasta, sebenarnya obligasi konversi lebih dulu populer daripada obligasi. Kecenderungan melakukan emisi obligasi baru menunjukkan aktivitas yang meningkat sejak tahun 1992, sedang obligasi konversi sudah memasuki pasar menjelang akhir tahun 1990.

4. Reksa Dana (Mutual Funds)
Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu Reksa Dana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Dilihat dari asal kata-nya, Reksa Dana berasal dari kosa kata “reksa” yang berarti jaga atau pelihara dan kata “dana” yang berarti kumpulan uang, sehingga reksa dana dapat diartikan sebagai “kumpulan uang yang dipelihara bersama untuk suatu kepentingan”. Umumnya, Reksa Dana diartikan sebagai wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.
5. Opsi
Opsi adalah hak untuk membeli atau memiliki, selalu didahului dengan kontrak, dengan waktu berlakunya hak pada periode tertentu. Opsi juga diperjualbelikan di bursa, misalnya opsi untuk membeli saham tertentu pada harga tertentu dengan jumlah tertentu.

2.2   Karakteristik Pasar Modal

Pertama : Pasar modal merupakan sebuah bisnis yang mempertemukan pihak-pihak yang memerlukan dana jangka panjang dengan pemilik modal. Pihak yang butuh modal adalah perusahaan atau emiten. Sedangkan pemilik modal adalah investor (atau masyarakat). Pasar modal memberi manfaat buat perusahaan (pencari modal), dan juga bagi investor (penanam modal). Pasar modal memungkinkan masyarakat untuk dapat turut memiliki perusahaan yang sehat dan berprospek. Pasar modal memiliki berbagai produk yang dapat dipilih untuk investasi jangka pendek ataupun jangka panjang. Dengan karakteristik yang demikian itu, produk yang ditawarkan pasar modal memiliki bukti kepemilikan. 
Kedua : Karakteristik produk pasar modal yang juga khas adalah begitu membeli juga bisa dijual kembali, Selain berpeluang memperoleh capital gain, investor juga berpeluang memperoleh dividen atau hak lain yang melekat. Dividen untuk saham, bunga untuk obligasi. Demikian pula dengan produk-produk derivatif lainnya, seperti right, opsi, waran. 
3.1 Saran
            Nah, apabila kita ingin berinvestasi di pasar modal, maka jangan menitipkan uang pada pihak-pihak tertentu yang tidak mempunyai ijin untuk mengelola uang di pasar modal. Perlu diingat bahwa pengelola pasar modal memperoleh izin dari Bapepam-LK bukan dari yang lain. Bila ia pengelola dana maka yang ditawarkan adalah unit penyertaan reksadana. Reksadana tersebut bisa berupa reksadana indeks, reksadana syariah, reksadana campuran, reksadana saham, reksadana fixed income / reksadana pasar uang dan valas. Lalu kalau ia perusahaan pialang atau broker maka ia akan menawarkan saham, obligasi dan efek derivatif di pasar modal.
3.2 Kesimpulan
            Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksa dana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerintah), dan sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi. Dengan demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait            lainnya.
Instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar modal merupakan instrumen jangka panjang (jangka waktu lebih dari 1 tahun) seperti saham, obligasi, waran, right, reksa dana, dan berbagai instrumen derivatif seperti option, futures, dan lain-lain.
Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain, kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrument keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana, dan lain-lain. Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik keuntungan dan risiko masing-masing instrument.


DAFTAR PUSTAKA

Adiyanto. 2007,Produk pasar modal. www.ibh.com

Chamber, Bradford. 2005. How to know market. Stravon Publisher : New York

Murphy, Joseph. 1997. The power of Market (terjemahan) spektrum : Jakarta



0 komentar:

Ketik Komentar Disini