Bisnis Waralaba Mengipas Pangsa Pasar Tradisional

2:05 PM Anggita Siregar 2 Comments


Oleh: Anggita srg

Sektor di dalam perekonomian nasional salah satunya adalah pendapatan. Tak heran jika setiap orang berlomba-lomba untuk memperoleh pendapatan yang akan digunakan untuk kelangsungan hidupnya. Cara mereka memperoleh pendapatannya kebanyakan dengan membuka usaha atau berbisnis. Seringpula kita mendengar banyak bisnis yang berdiri di Indonesia salah satunya adalah bisnis waralaba. Bisnis yang sudah akrab sejak beberapa tahun belakangan ini sangat menjamur di lingkungan masyarakat khususnya. Bisnis waralaba merupakan bisnis yang memperjualkan produk-produk dari penjual dengan menggunakan nama brand bisnis waralaba itu sendiri.
Waralaba (Inggris: Franchising;Prancis: Franchise) untuk kejujuran atau kebebasan adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan menurut versi pemerintah Indonesia, waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual(HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa. Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan Waralaba ialah suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu. Bisnis Waralaba berdiri sejak 1950-an dan masuk ke Indonesia 1980-an.

Karena banyaknya bisnis waralaba yang berdiri di Indonesia maka penulis mengambil salah satu sampel yaitu bisnis waralaba Indomaret. Bisnis waralaba Indomaret berdiri sejak tahun 1988. Pada tahun 1997 Indomaret membuka pola kemitraan (waralaba) dengan masyarakat luas. Hingga September 2010, segmen pasar yang menjadi sasaran Indomaret adalah konsumen dari semua kalangan masyarakat sehingga penempatan lokasi gerai-gerai Indomaret dapat dengan mudah ditemukan di mana saja seperti daerah perumahan, gedung perkantoran, dan fasilitas umum. Penempatan lokasi gerai yang strategis, yang sesuai dengan motto Indomaret yaitu “Mudah dan Hemat”, ditujukan untuk memudahkan Indomaret melayani sasaran demografisnya yakni keluarga. Bukan hanya itu, indomaret kini mengajak orang-orang yang ingin berinvestasi dalam usahanya.
Dengan berdirinya bisnis waralaba ini banyak memberikan pro dan kontra terhadap pasar tradisional. Karena ini juga akan berefek pada tingkat konsumsi masyarakat dari pasar tradisional. Dilihat dari segi kelengkapan produk memang waralaba melengkapi seluruh kebutuhan konsumen sementara pasar tradisional terdiri dari penjual-penjual dagangan yang tergabung dalam satu tempat. Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang menyebabkan terjadinya proses permintaan dan penawaran.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia pasar berarti tempat orang berjual beli sedangkan tradisional dimaknai sikap dan cara berfikir serta bertindak yang selalu berpegang kepada norma dan adat kebiasaan yang ada serta turun temurun. Berdasarkan arti diatas maka pasar tradisional adalah tempat orang berjual beli yang berlangsung di suatu tempat berdasarkan kebiasaan. Di Indonesia keberadaan pasar Tradisional bukan semata merupakan urusan ekonomi tetapi lebih jauh kepada norma ranah budaya, sekaligus peradaban yang berlangsung sejak lama di berbagai wilayah di Indonesia.
Berbicara tentang pengaruh waralaba, banyak pendapat-pendapat yang mengemukakan bahwa pasar tradisional tidak berpengaruh sama sekali dengan keberadaan bisnis waralaba.  Terang saja karena setiap orang memiliki pandangannya sendiri dari segi kacamata penglihatannya. Kekurangan waralaba dan kelebihan pasar tradisional bergantung pada sudut pandang consumer masing-masing. Dari segi kepuasan konsumen ada beberapa yang diperhatikan mereka biasanya: tempat, lokasi, harga dan pelayanan di penjual tersebut.
Menurut Prof. Doc. Abdurrahma Ritonga (Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Medan) waralaba tidak selamanya mempengaruhi pasar tradisional dikarenakan ia memandang dari sudut tenaga kerja. Menurutnya dalam waralaba memang menguntungkan bagi jumlah tenaga kerja karena semakin banyaknya bissis waralaba maka semakin banyak pula jumlah tenaga kerja di Indonesia. Namun jika dari segi konsumen tidak mempengaruhi sama sekali karena pasar tradisional masih memiliki banyak pelanggan dan itu menjadi pusat kebutuhan para pelaku ekonomi.
Pendapat dari guru besar di atas bisa kita lihat dari kekurangan bisnis waralaba bahwa bisnis waralaba menjual barang yang harganya lebih tinggi karena mereka turut membayar pajak, lalu terkadang mereka membuat discount yang sebenarnya bukanlah discount karena itu harganya tetap sama. Sebagai consumer harus bijak mengambil keputusan. Lalu kita bisa beralih di kelebihan pasar tradisional: harganya pasti lebih murah, barang yang diperjualkan kebanyakan barang baru dikarenakan semakin bertambah barang, juga kita bisa melakukan penawaran pastinya.

Lalu pendapat di atas ditegaskan oleh seorang pedagang di pasar tradisional Gambir, ia berpendapat bahwa bisnis waralaba memang bersaing dengan pedagang pasar tradisional tetapi walaupun begitu mereka tidak merasa dirugikan karena dari tahun ke tahun dagangannya tidak pernah tidak habis, juga ia menegaskan bahwa pasar tradisional merupakan pusat mata perbelanjaan yang tidak membuat repot konsumen untuk memilih barang.
Namun teori berbeda dengan kenyataan. Sejauh ini jika kita lihat keberadaan waralaba semakin bercabang dan berkecambah kemana-mana. Dan hal inilah yang berdampak negative ke pangsa pasar tradisional. Sekalipun di daerah pedalaman, bisnis ini tetap melekat. Hal ini bisa kita buktikan dari beberapa survey yang ada.
Berdasarkan survey Nielsen, jumlah pasar tradisional pada tahun 2000 masih 78,3 % dari total pasar. Namun pada tahun 2005 jumlahnya menurun menjadi 70,5%. Bahkan pada tahun 2008 diperkirakan jumlah pasar tradisional berkurang menjadi 65% dari total jumlah pasar tradisional di Indonesia. Data tambahan dari asosiasi Pedagang Pasar seluruh Indonesia juga membuat miris, pada tahun 2008 sebanyak 4707 pasar tradisional atau sekitar 35% dari total seluruh pasar tradisional di Indonesia ditinggalkan pedagang karena pasar tradisional kalah bersaing dengan waralaba, oleh karena itu jumlah pedagang tradisional pun terus menurun. Pada tahun 2007 jumlah pedagang pasar tradisional sebanyak 12.625 juta dan tahun 2008 jumlah pedagang menjadi 11juta.
Penurunan grafik pasar tradisional sangat jelas terlihat secara signifikan. Hal ini juga bisa dilihat dari pertumbuhan bisnis waralaba yang pesat seperti Indomaret tahun ini berencana membangun sekitar 600 unit gerai baru di seluruh Indonesia di mana sekitar 300-360 gerai menggunakan format waralaba. Hingga Maret tahun ini, jumlah gerai Indomaret di seluruh Indonesia sudah mencapai 4.110 gerai yang terdiri dari 2.374 berformat reguler dan 1.783 gerai berformat waralaba.
Yang harus kita tahu mengapa masyarakat lebih dominan pergi ke waralaba daripada pasar tradisional karena dilihat dari segi lokasi, Indomaret sudah merebah ke rumah-rumah penduduk otomatis lebih dekat dengan rumah penduduk di Indonesia, dari segi pelayanan bisnis ini memang mengutamakan pembeli seperti di Indomaret, bahasa-bahasa yang digunakan oleh kasir sopan dan santun. Lalu tempat dari segi fasilitas, bisnis waralaba ini menggunakan ac sehingga ketika consumer masuk ke dalamnya merasa nyaman. Lalu dari segi harga, bisnis ini sering membuat discount-discount yang menarik sehingga menggiurkan konsumen.

Sedangkan jika dibandingkan dengan pasar tradisional, ketika hujan tempatnya pun menjadi kotor dan becek, memang di pasar tradisional barang-barangnya melengkapi tetapi consumer memikir dua kali untuk ke pasar tradisional karena dari segi tempat dan fasilitas. Seperti yang kita tahu di kenyataan, pasar tradisional dilengkapi dengan kesumukan dan kepadatan pedagang-pedagang juga tempat yang bisa terbilang kurang bersih.
Jadi jawaban atas setiap masalah yang dihadapi oleh pasar tradisional adalah, mereka harus mampu berinovasi agar tidak menjadi kalah saing dengan bisnis waralaba karena jika mereka hanya seperti itu saja dari tahun ke tahun maka pelan pelan pedagang pasar tradisional akan menggulung tikar.
Untuk mengatur keberadaan waralaba di tengah-tengah masyarakat, sudah ada aturan yang jelas yaitu Perpres No 112 Tahun 2007 dan Permendagri No 53 Tahun 2008 tentang Pasar Tradisional dan Modern (Waralaba), dan turunannya Perwal No 20 Tahun 2011 tentang Pengaturan Teknis berdirinya pasar tradisional dan pasar modern (Waralaba). Dijelaskan permasalahan jarak antara pasar tradisional dan pasar modern, sehingga tidak mengganggu persaingan usaha. Karena jika tidak ini menjadi pukulan berat bagi pegadang biasa.




2 comments:

Ketik Komentar Disini